Kamis, 10 Februari 2022

tari ratoh duek


   Tari Ratoh Duek adalah tarian dari provinsi Aceh. Tari Ratoh Duek tengah berkembang pesat di Jakarta. Umumnya, masyarakat Jakarta mengenal dan menyebutnya dengan nama Tari Saman. Hampir tidak ada perbedaan antara kedua jenis tari ini, tari Ratoh Duek dilakukan oleh penari perempuan, sedangkan tari Saman dilakukan oleh penari laki-laki.

   Tarian ini dilakukan oleh 11 wanita dan 2 syahie. Didampingi irama musik Islami, unsur-unsur tari terlihat begitu harmonis. Tari ini dibawakan dengan penuh semangat sebagai gambaran tentang interaksi kehidupan sehari-hari dan kekompakan masyarakat Aceh. 

    Hal ini tercermin dalam harmoni antara penari saat mereka bertepuk tangan secara berirama. Tarian ini membutuhkan gerakan tari yang harmonis dan nyanyian, mencerminkan keharmonisan masyarakat Aceh.

   Tari Ratoh Duek sangat populer di luar provinsi Aceh, Ketika tari Saman ditetapkan UNESCO sebagai Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia.Sejak saat itu Tari Saman dilarang untuk dibawakan oleh wanita, tari Saman hanya boleh dibawakan oleh para lelaki dengan menggunakan pakaian khas Gayo. 

Tarian saman yang biasa dimainkan remaja putri di pesisir berubah menjadi ratoh duek. Dari ratoh duek kemudian berubah lagi menjadi Tari Rateb Meuseukat.

tari tarek pukat


 KOMPAS.com - Hampir seluruh wilayah di Provinsi Aceh memiliki perairan laut yang dijadikan sumber penghasilan masyarakat. Para leluhur menganggap adat dan kearifan lokal itu cukup penting. Hal ini kemudian terlihat dari beberapa kesenian yang ada di Aceh, salah satunya tarian Tarek Pukat yang sampai saat ini masih dilestarikan. Dalam buku Ensiklopedia Musik dan Tari Daerah, Propinsi Daerah Istimewa Aceh (1986) oleh Firdaus Burhan, tari tarek Pukat adalah salah satu tarian tradisional asal Aceh. 

   Tarian ini dibawakan sekelompok penari wanita yang menari menggunakan properti tali. Tari Tarek Pukat menggambarkan tentang aktivitas para nelayan Aceh saat menangkap ikan di laut. Tarian ini biasanya ditampilkan dalam berbagai acara seperti upacara penyambutan, acara adat, dan acara budaya. Baca juga: Tari Kecak, Tari Tradisional Bali dengan 50 Penari Pengiring Tari Tarek Pukat terinspirasi dari tradisi menarek pukat atau menarik jala yang dilakukan masyarakat Aceh, khususnya di daerah pesisir. 

      Dalam sejarahnya, kegiatan menarek pukay sudah dilakukan masyarakat pesisir Aceh sejak lama. Saat menangkap ikan, mereka melepas dan menarik jala secara gotong-royong. Ketika ikan ditangkap, hasilnya akan dibagi-bagi kepada warga yang ikut serta saat menarek pukat tadi. Tarian tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya dan tradisi masyarakat Aceh pesisir, khususnya saat menangkap ikan di laut. Makna tarian Tarek Pukat sebagai sikap gotong royong dan semangat kebersamaan masyarakat yang direfleksikan dalam sebuah tarian. Baca juga: Tari Seudati, Tarian Pengikat Tali Persaudaraan di Aceh Pola gerak tari Tarek Pukat Tari Tarek Pukat ditampilkan oleh penari wanita berjumlah tujuh orang penari atau lebih. Jumlah ini disesuaikan dengan kelompok atau sanggarnya. Biasanya tarian ini diawali dengan gerakan seperti tarian Aceh pada umumnya, yaitu menari dengan posisi duduk sambil menepuk dada dan paha. Salah satu hal yang menarik dalam tarian ini adalah di akhir tarian penari mengaitkan tali satu sama lain sehingga menjadi sebuah rangkaian jaring atau jala. 

    Nama gerakan dan makna dari tari Tarek Pukat adalah: Surak (berteriak) Gerakan ini memiliki simbol tentang semangat para nelayan untuk mencari ikan dilaut dan memberi tanda bahwa para nelayan ingin berlayar kelautan yang luas untuk mencari ikan. Meulinggang (lenggang Aceh) Meulinggang artinya berlenggang, menggambarkan suasana kemeriahan dankeceriaan masyarakat pesisir Aceh dalam aktivitas membuat pukat atau jaring. Baca juga: Tari Gantar, Tarian Kegembiraan Menanam Padi Meukayoh (mendayung) Gerakan ini menggambaekan bahwa masyarakat Aceh selalu berusaha untuk tetap mencari dan pantang menyerah untuk melewati ombak lautan. Gerakan ini memberi pesan bahwa sifat dan karakter masyarakat Aceh tidak mudah menyerah. Peugot pukat (buat jaring) Gerakan ini artinya membuat jaring ikan yang menggambarkan kerja sama serta menjadikan alat untuk mata pencarian masyarakat pesisir Aceh. Tarek Pukat (tarik jaring) Gerakan ini diartikan bahwa masyarakat Aceh selalu bekerja sama dalam kegiatan melaut. Makna menarik jala ikan menimbulkan kebersamaan dalam mendapatkan hasil dari ikan yang nyangkut di jaring. Properti dan musik pengiring Berdasarkan buku Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Propinsi Daerah Istimewa Aceh (1993) oleh Idris Z.H, pakaian yang diguanakan biasanya berupa busana tradisional. 

   Alat yang digunakan dalam tarian ini, yaitu topi yang terbuat dari rotan atau bambu dan tali dengan panjang satu meter. Sedangkan musik pengiring tarian Tarek Pukat yaitu riang yang dihasilkan dari alat musik rapai (dipukul) dan serune kalee (alat musik tiup). Kemudian dinyanyikan oleh pengiring vocal. Beberapa penari juga mengikuti nyanyian tersebut namun beberapa bait saja.




tari rateb meusekuat


   Tari Ratéb Meuseukat merupakan salah satu tarian Aceh yang berasal dari Aceh. Nama Ratéb Meuseukat berasal dari bahasa Arab yaitu ratéb asal kata ratib artinya ibadat dan meuseukat asal kata sakat yang berarti diam.

   Diberitakan bahwa tari Ratéb Meuseukat ini diciptakan gerak dan gayanya oleh Wan Rakibah anak perempuan dari ulama besar yaitu Al Qutb Wujud Habib Abdurrahim bin Sayid Abdul Qadir Al-Qadiri Al-Jailani yang dikenal dengan Habib Seunagan.(Nagan Raya), sedangkan syair atau ratéb-nya diciptakan oleh Teungku Chik di Kala, seorang ulama di Seunagan, yang hidup pada abad ke XIX. Isi dan kandungan syairnya terdiri dari sanjungan dan puji-pujian kepada Allah dan sanjungan kepada Nabi, dimainkan oleh sejumlah perempuan dengan pakaian adat Aceh. Tari ini banyak berkembang di Meudang Ara Rumoh Baro di kabupaten Aceh Barat Daya.

   Pada mulanya Ratéb Meuseukat dimainkan sesudah selesai mengaji pelajaran agama malam hari, dan juga hal ini tidak terlepas sebagai media dakwah. Permainannya dilakukan dalam posisi duduk dan berdiri. Pada akhirnya juga permainan Ratéb Meuseukat itu dipertunjukkan juga pada upacara agama dan hari-hari besar, upacara perkawinan dan lain-lainnya yang tidak bertentangan dengan agama.Saat ini, tari ini merupakan tari yang paling terkenal di Indonesia. Hal ini dikarenakan keindahan, kedinamisan dan kecepatan gerakannya. Tari ini sangat sering disalahartikan sebagai tari Saman dari suku Gayo. Padahal antara kedua tari ini terdapat perbedaan yang sangat jelas. Perbedaan utama antara tari Ratéb Meuseukat dengan tari Saman ada 3 yaitu, pertama tari Saman menggunakan bahasa Gayo, sedangkan tari Ratéb Meuseukat menggunakan bahasa Aceh. Kedua, tari Saman dibawakan oleh laki-laki, sedangkan tari Ratéb Meuseukat dibawakan oleh perempuan. Ketiga, tari Saman tidak diiringi oleh alat musik, sedangkan tari Ratéb Meuseukat diiringi oleh alat musik, yaitu rapa’i dan geundrang.

tari bines


   Tari Bines merupakan tarian tradisional yang berasal dari kabupaten Gayo Lues, Aceh Tenggara. Tarian ini muncul dan berkembang di Aceh Tengah namun kemudian dibawa ke Aceh Timur. Menurut sejarah tarian ini diperkenalkan oleh seorang ulama bernama Syech Saman dalam rangka berdakwah. Tari ini ditarikan oleh para wanita dengan cara duduk berjajar sambil menyanyikan syair yang berisikan dakwah atau informasi pembangunan. Para penari melakukan gerakan dengan perlahan kemudian berangsur-angsur menjadi cepat dan akhirnya berhenti seketika secara serentak.

      Tari ini juga merupakan bagian dari Tari Saman saat penampilannya. Hal yang menarik dari tari Bines adalah beberapa saat mereka diberi uang oleh pemuda dari desa undangan dengan menaruhnya di atas kepala perempuan yang menari.Tari Bines biasanya di akhir acara akan di adakan pengambilan bunga dari kepala yang dalam istilah Gayo adalah Nuet Tajuk. Waktu pengambilan bunga, penari Bines biasanya diberikan uang sebagai ganti bunganya sebagai harga untuk bunga tersebut.

Sejarah Tari Bines

Menurut sejarahnya, tari Bines bermula dari 3 cerita rakyat yang berkembang di daerah Gayo, antara lain:

1. Cerita Rakyat “Ni Malelang Ode”

Alkisah ada seorang ibu yang mempunyai putri yang sangat disayangi, bernama Ni Malelang Ode. Namun karena telah berbuat zina dengan seorang pemuda di desanya, masyarakat yang merasa malu dengan aib tersebut, memutuskan untuk menghukum mati gadis tersebut. Sang Ibu sangat sedih hatinya dengan keputusan tersebut.Sebelum dimakamkan, sang ibu menangis meratapi jenasah anaknya sambil meratap memilukan hati bagi siapapun yang mendengarnya. Berkali-kali tangannya menggoyangkan jenasah itu seolah – olah ingin membangunkannya dan sesekali menghentakkan kakinya. Keadaan itu menimbulkan simpati para tetangganya dan mereka berkumpul di dekat jenasah seraya menghibur hati sang ibu. Dari adegan tersebut, dalam tari Bines terdapat syair yang berisi ratapan yang bernuansa sedih serta gerak menghentakkan kaki yang diadopsi dari kejadian itu.

2. Cerita rakyat “Ibu yang kehilangan putra satu-satunya”

Versi asal mula tari Bines lainnya, adalah kisah tentang seorang ibu yang mempunyai 7 anak, 6 perempuan dan 1 laki-laki. Mereka bertujuh saudara sangat akrab dan saling menyayangi. Pada suatu hari putra semata wayang itu meninggal dunia. Begitu cintanya kepada saudara laki-lakinya itu, 6 gadis itu setiap malam secara bersama-sama mengelilingi jenasah sambil menangis meratapi kematiannya. Ratapan mereka terdengar indah meskipun memilukan. Formasi duduk mereka ketika meratap, menjadi formasi dasar tari Bines, yaitu dua di atas kepala, 2 di samping kanan dan 2 di samping kiri.

    Situasi itu terlihat oleh seorang ulama penyebar agama Islam di daerah itu, yakni Syekh Abdul Karim. Dengan penuh kearifan dan kelembutan beliau mengingatkan bahwa meratapi orang yang sudah meninggal itu bertentangan dengan ajaran Islam, dan sebaiknya syair ratapan itu akan lebih baik jika diperdengarkan bagi yang hidup. Maka sejak saat itu dalam tari Bines terdapat syair ratapan, dan gerak menelungkup. Namun dalam perkembangannya syair ratapan tersebut mulai ditinggalkan.

3. Cerita Rakyat Tentang ” Gajah Putih ”

  Cerita rakyat ketiga yang beredar di tengah masyarakat Gayo sebagai cikal bakal adanya Tari Bines, adalah tentang kisah Gajah Putih.

   Alkisah pada suatu hari di alun-alun kerajaan yang diperintah oleh Raja Lingge terlihat ada seekor gajah putih mengamuk mengobrak-abrik bangunan disekitarnya. Tidak ada seorangpun yang mampu menundukkannya. Maka salah seorang putra Raja Lingge yang bernama Sengeda memberanikan diri mohon kepada ayahandanya agar diijinkan menaklukkan amukan gajah itu. Atas ijin sang raja, mulailah dijalankan siasatnya. Sebenarnya Sengeda sudah tahu bahwa Gajah Putih itu adalah jelmaaan Bener Meriah kakak kandungnya yang sudah lama diasingkan karena fitnah teman-temannya.Semua orang yang semula mengeroyok gajah putih tersebut diminta untuk mundur dan menghentikan serangannya. Sebagai gantinya dibunyikanlah alat-alat musik seperti rebana, canang, dan gong. Sedangkan para ibu membunyikan musik lesung secara serentak. Demi mendengar bunyi tetabuhan itu sang gajah yang semula bersikap garang berangsur-angsur tenang. Selanjutnya Sengeda memerintahkan tiga puluh pemuda membentuk formasi setengah lingkaran mengelilingi gajah sembari bertepuk tangan dengan irama yang beraturan dan melantunkan puji-pujian atas sifat baik Bener Meriah. Dengan gerak perlahan, Sengeda menari dihadapan gajah, sehingga merangsang gajah ikut bergerak maju mundur berirama. Menurut cerita tutur, gerak itulah yang melahirkan tari Bines.

                        Fungsi dan Makna Tari Bines

Tari Bines secara garis besar mempunyai fungsi, sebagai berikut:

1. Sebagai Sarana Komunikasi

Setiap tari Bines selalu dilantunkan syair yang mengandung pesan yang dikomunikasikan kepada penontonnya.Syair tersebut biasanya berisi ajaran moral, perilaku manusia yang seharusnya dilakukan sesuai dengan ajaran agama, dan juga ajakan untuk senantiasa hidup rukun dan damai.

2. Sarana Hiburan

Disamping pesan moral, tari Bines juga menampilkan bagian yang bersifat menghibur, bahkan memungkinkan untuk mengajak penonton perempuan untuk ikut bergabung.Bersifat spontanitas dan bebas karena geraknnya mudah diikuti.

3. Sarana Publikasi

 Biasanya tari Bines juga menyajikan syair yang menyatakan bahwa tarian ini berasal dari daerah Gayo Lues.Dengan demikian penonton memperoleh informasi tentang dari daerah asal tari Bines ini.

          4. Sarana Mediasi

 Bahwa perselisihan antar kampung yang terjadi, tidak jarang bisa diredam dengan pementasan bersama tari Binnes ini dengan syair yang menyejukkan kedua belah pihak yang sedang bersengketa. Adanya kesadaran bahwa tari ini merupakan milik sesama orang Gayo Lues yang harus dijaga kelestariannnya, maka sangat dimungkinkan berfungsi juga sebagai perekat.

                                                        Pertunjukan Tari Bines

    Tari Bines merupakan tradisi berkesenian para perempuan Gayo Lues yang memang tidak diperbolehkan menari Saman yang keras dan dinamis. sebagai gantinya diciptakan tari yang cocok dengan jiwa dan karakter perempuan yang lebih lembut dan anggun. Beberapa unsur yang melekat pada tari Bines dan tidak bisa dipisahkan, yaitu penari, gerak tari, syair, penangkat, dan busana tari. Jumlah penari pada umumnya berjumlah genap bisa 6, 8,10, 12 hingga 16 orang. Mereka membawakan ragam gerak yang sama dan dilakukan secara serempak dari awal hingga akhir. Adapun ragam gerak yang biasa ditampilkan secara garis besar dapat disebutkan di sini, antara lain: Surang saring: dimaksudkan bahwa dari awal hingga akhir tarian ini dibawakan secara serempak dengan ragam gerak yang tidak berbeda antara penari satu dengan yang lain; Alih: gerak tangan yang berubah dari tepuk tangan ke gerak tangan yang lain; Langkah: gerak langkah untuk membentuk pola lantai huruf U dan berbanjar; Tepok: bertepuk tangan ; Kertek: gerakan petik jari.

                                                             Busana Penari Bines

   Busana tari Bines sejak dahulu sampai sekarang tidak banyak berubah karena terikat dengan pakem.Seperti halnya dengan tarian tradisi pada umumnya busana tari menjadi salah satu bagian yang sangat dipegang teguh agar terjaga “keasliannya”. Dari busana tari yang dikenakan oleh para penari menunjukkan ciri dan identitas daerah yang memudahkan penonton bisa dengan mudah dapat mengenalinya. Untuk itulah biasanya busana tari tradisi yang ada tetap dipertahankan. Adapun busana tari Bines terdiri atas:

 Baju Lukup bermotif tabur, atau disebut Baju Tabur; Kain Sarung; Kain Panjang atau Upuh Kerawang dengan dihias Renggiep di pinggirnya; Sanggul yang dihiasi daun kepies.Bisa juga diganti dengan daun bambu, daun pandan. Bahkan tidak jarang dengan hiasan kepala berwarna-warni; Hiasan leher berupa Belgong; Ikat Pinggang berupa Genit Rante yang dihiasi dengan Renggiep; Toping Gelang dan Sensim Metep.


tari likok pulo


  Tari ini terdapat di desa Ulee Paya, Mukim Pulau Beras Selatan, Kecamatan Pekan Bada, Kabupaten Aceh Besar, dan berasal dari suku bangsa Aceh. Arti kata likok ialah gerak tari, sedang Pulo Aceh berarti Pulau Aceh. Dengan demikian dapat diartikan “tari yang berasal dari Pulau Aceh”, yakni sebuah pulau kecil yang terletak di ujung sebelah Utara pulau Sumatera yang dinamakan juga pulau Breuh atau pulau Beras. Tari ini menurut jenisnya digolongkan sebagai tari hiburan/pertunjukan, yang pada lazimnya diadakan sesudah waktu menanam padi, sesudah panen dan upacara lainnya yang bersifat keamaian.

  Dari hasil penelitian dapat dipastikan bahwa tari ini sudah ada jauh sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan semasa Pemerintahan Belanda, tari ini sering dipagelarkan di beberapa tempat di Kabupaten Aceh Besar. Semenjak tahun enam puluhan tari ini tidak pernah dipagelarkan lagi. Barulah pada tahun 1977 dan 1978, tari ini digalakkan kembali dengan menampilkannya dalam beberapa upacara keramaian. Siapa yang mencipta tarian ini, tidak diketahui, tetapi beberapa sumber mengatakan bahwa tari ini dibawa oleh Syekh Ahmad Badhrun. Tata rakit (komposisi) dan tata gerak tari likok Pulo Aceh ini diatur sebagai berikut :

Tari ini dimainkan dalam posisi duduk bersimpuh, berbanjar bahu – membahu.

  Seorang penari utama yang disebut syekh berada di tengahtengah penari yang lain.Dua orang penabuh repai (pemasik) berada di belakang atau sisi kiri/kanan penari. Sedang gerak tari, hanyalah dengan memfungsikan anggota tubuh bahagian atas; badan, tangan dan kepala.

Gerakan tari pada perinsipnya ialah : Gerak olah tubuh, ketrampilan, keseragaman/keserantakan dengan memfungsikan tangan sama-sama ke depan ke samping kiri/kanan ke atas, dan melingkar dari depan ke belakang, dalam tempo lambat sampai cepat.

   Tiap ragam tari dimulai dengan lambat, dan pada akhir tiap ragam terjadi klimak dalam tempo cepat, dan pada saat itu pula gerak tari secara serentak dihentikan. Selain memperlihatkan kelincahan gerak, terdapat pula ragam gerak tari yang dinamai lhok talo (membuat tali) yakni dengan membelit tangan dari seseorang ke seorang, sehingga tangan penari terlihat seperti tali tali yang dipental (diputar). Tari ini biasanya dipertandingkan antara 2 (dua) group. Kedua group tersebut sekali tampil dengan cara berhadap-hadapan. Dalam pertandingan ini, group yang satu, menirukan gerak tari group yang lain. Kalah menang, ditentukan oleh kemampuan group-group yang bertanding meniru gerak tari yang dilakukan oleh group lawan.


Tari ini dimainkan oleh laki-laki saja. Tiap group tari didukung oleh 12 orang penari, dan 2 orang penabuh repai, sebagai pemusik. Musik pengiring terdiri dari 2(dua) buah repai yang ditabuh oleh 2 orang penabuh, selain itu terdapat pula nyanyian (radat) yang dikumandangkan oleh penari-penari, dipimpin oleh syekh. Tari ini biasanya diadakan di atas tanah, (lapangan terbuka) beralaskan tikar, dan para penonton duduk/berdiri disekitamya. Dapat juga diadakan di atas pentas dengan di alas sesuatu alas yang lembut umpamanya spoon.


Pakaian penari terdiri dari : Baju kaos oblong, panjang tangan warna putih, celana panjang warna hitam, kain sarung (kain sesamping di pinggang), tengkuluk


Alat peraga lainnya ialah ; boh likok atau buah likok, yakni sepotong kayu sepanjang 10 cm, diameter 4 cm, berbentuk klos/gelendong tali pancing. Boh likok ini, juga berfungsi sebagai musik yakni pengatur tempo (ritmis) yang dihentak oleh penari antara satu dengan lainnya secara serentak, dalam berbagai cara, dan tingkah, yang sekaligus mendukung keindahan gerak t

Rabu, 09 Februari 2022

tari kejei


  Sebagai bagian dari rangkaian upacara adat perkawinan, tari ini tidak hanya dibawakan oleh penarinya saja, melainkan juga melibatkan mempelai pria dan wanitanya sebagai pertanda pelepasan masa lajang kedua mempelai.Perihal namanya, yang juga sama dengan nama upacaranya, upacara Kejei, nama Kejei berasal dari bahasa Rejang yang berarti perayaan besar.Selain difungsikan sebagai hiburan dalam upacara adat serta sebagai ajang perkenalan antara bujang dan gadis, tari ini juga merupakan tarian sakral yang mengandung nilai mistik.

   Dalam penyajiannya ada beberapa aturan yang wajib dipenuhi, termasuk para penari perempuannya harus masih perawan dan dalam keadaan suci.Perihal jumlah pasangan penari ganjil, diyakini jumlah tersebut akan digenapi oleh arwah nenek moyang. Selain itu, pelaksanaan upacaranya juga disertai dengan pemotongan beberapa kerbau, kambing atau sapi sebagai syarat yang diwajibkan.Sebagai bagian dari rangkaian upacara adat perkawinan, tari ini tidak hanya dibawakan oleh penarinya saja, melainkan juga melibatkan mempelai pria dan wanitanya sebagai pertanda pelepasan masa lajang kedua mempelai. Perihal namanya, yang juga sama dengan nama upacaranya, upacara Kejei, nama Kejei berasal dari bahasa Rejang yang berarti perayaan besar.

   Selain difungsikan sebagai hiburan dalam upacara adat serta sebagai ajang perkenalan antara bujang dan gadis, tari ini juga merupakan tarian sakral yang mengandung nilai mistik.Dalam penyajiannya ada beberapa aturan yang wajib dipenuhi, termasuk para penari perempuannya harus masih perawan dan dalam keadaan suci.Perihal jumlah pasangan penari ganjil, diyakini jumlah tersebut akan digenapi oleh arwah nenek moyang. Selain itu, pelaksanaan upacaranya juga disertai dengan pemotongan beberapa kerbau, kambing atau sapi sebagai syarat yang diwajibkan.

  Sejarah lahirnya tarian tradisional Bengkulu ini bermula di tahun 1468. Dimulai dari laporan seorang pedagang Pasee bernama Hassanuddin Al-Pasee yang berniaga ke Bengkulu. Ada juga keterangan dari Fhathahilla Al Pasee yang berkunjung ke tanah Redjang di tahun 1532.Untuk pertama kalinya, upacara Kejei beserta penyajian Tari Kejei diadakan saat pernikahan Putri Senggang dengan Biku Bermano. Ada kisah yang menyebutkan bahwa buku pelaksanaan “kejei” tersebut disimpan di dalam perut Biku Bermano.Tarian ini dipercaya telah ada sebelum kedatangan para biku dari Majapahit. Semenjak mereka datang, alat musiknya diganti dengan alat dari logam, seperti yang digunakan hingga saat ini.

    Upacara Kejei ini dilaksanakan dengan durasi yang sangat panjang. Ada yang sampai 9 bulan, 3 bulan, 15 hari, serta ada juga yang hanya 3 hari berturut-turut. Oleh karena itu, Kejei disebut sebagai hajatan terbesar yang biasanya hanya dilaksanakan oleh orang-orang mampu.

tari lanan balek


  Tari Lanan Balek memiliki sejarah seperti kisah jaka tarub. Cerita rakyat yang menceritakan seorang bidadari kehilangan selendang. Ternyata selendang tersebut dicuri oleh seorang pemuda yang kemudian menjadi suaminya. Setelah selendang ditemukan, bidadari tersebut kembali kekhayangan dan meninggalkan suaminya.Begitulah alur gerakan dari tari Lanan Balek. Layaknya sebuah cerita rakyat yang disampaikan melalui gerakan dengan diiringi musik. Pesan dalam cerita dapat tersampaikan dengan indah dan menghibur.Seperti melihat bidadari dalam bentuk nyata yang begitu cantik dengan balutan baju khas Bengkulu dan perhiasan yang menambah elok penari. Sayangnya, tidak mudah untuk bisa menemukan tarian ini. Hanya acara tertentu yang menampilkan tarian Lanan Balek.

  Tarian ini adalah salah satu aset budaya yang masih dilestarikan. Agar budaya tidak hilang, maka masyarakat wajib untuk melestarikan warisan tersebut. Di provinsi Bengkulu ini terdapat salah satu tarian yang perlu sobat ketahui yakni Tari Lanan Belek.Tarian ini memiliki sejarah seperti kisah Jaka Tarub. Cerita rakyat yang menceritakan seorang bidadari kehilangan selendang. Ternyata selendang tersebut dicuri oleh seorang pemuda yang kemudian menjadi suaminya. Setelah selendang ditemukan, bidadari tersebut kembali kekhayangan dan meninggalkan suaminya.

  Begitulah alur gerakan dari tari Lanan Balek. Layaknya sebuah cerita rakyat yang disampaikan melalui gerakan dengan diiringi musik.Gerak yang mengikuti irama tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga terdapat maksud yang ingin disampaikan. Gerakan yang diciptakan sedemikian rupa agar dapat dinikmati dan tersampaikan pesan dari tujuan tarian tersebut, serta dapat menghibur yang menyaksikannya.